UJI KORELASI
sumber : https://www.statisticshowto.com/wp-content/uploads/2012/10/pearson-2-small.png
Dalam
situasi kehidupan nyata, kerap dijumpao semacam hubungan atau asosiasi antara
karakter atau variabel. Misalnya, jika kita mengukur tinggi dan berat
sekelompok individu, kita memperoleh deret di mana setiap individu dari deret
tersebut memiliki 2 nilai, satu berkaitan dengan tinggi badan dan yang lainnya
berkaitan dengan berat badan. Distribusi seperti di mana setiap individu (unit)
memiliki dua nilai disebut distribusi bivariat. Jika kita mengukur lebih dari
dua variabel pada setiap unit distribusi, maka disebut distribusi multivariat.
Dalam keduanya, perubahan dalam satu variabel ditemukan atau tampaknya
ditemukan terkait dengan perubahan variabel yang lain. Hubungan ini bisa
bersifat kasual atau kausal. Alat statistik yang digunakan untuk menentukan hubungan
seperti itu yakni korelasi dan regresi. Ada banyak jenis data di ilmu hayat dan
ilmu sosial dimana hubungan antara dua variabel bukan merupakan salah satu ketergantungan.
Dalam kasus seperti itu, besarnya salah satu variabel berubah sebagai besarnya
perubahan variabel kedua, tetapi tidak masuk akal untuk menganggapnya sebagai variabel
bebas atau terikat. Dalam situasi seperti itu, analisis korelasi diperlukan.
Contoh
data yang cocok untuk analisis korelasi adalah pengukuran panjang lengan dan kaki manusia. Mungkin
ditemukan bahwa individu dengan lengan panjang pada umumnya akan memiliki kaki
yang panjang, jadi suatu hubungan mungkin diinginkan; tapi tidak ada pembenaran
dalam menyatakan bahwa panjang satu tungkai tergantung pada panjang yang lain.
Tetapi untuk variabel seperti usia dan tekanan darah seseorang, usia
mempengaruhi tekanan darah. Analisis regresi adalah yang paling cocok untuk
variabel semacam ini, meskipun kita dapat menerapkan korelasi analisis untuk
menemukan derajat asosiasi. Sejauh mana dua atau lebih variabel co-variasi
dalam beberapa mode linier diberikan oleh analisis korelasi.
Berdasarkan uraian tersebut, maka makalah ini akan berfokus pada pembahasan mengenai statistik korelasi.
Berdasarkan
latar belakang yang dipaparkan, maka rumusan masalah yang diajukan pada makalah
ini ialah:
1.
Apa yang
dimaksud dengan statistik korelasi?
2. Bagaimana pengujian statistik korelasi dengan SPSS?
Adapun tujuan dari
penulisan makalah ini ialah:
1.
Mengetahui
konsep statistik korelasi.
2.
Mengetahui
teknik pengujian statistik korelasi dengan SPSS.
2.1
Statistik
Korelasi
Ketika hubungan bersifat kuantitatif, alat statistik yang tepat untuk
menemukan dan mengukur hubungan dan mengungkapkannya dalam rumus singkat ialah
menggunakan korelasi. Korelasi adalah analisis kovariasi antara dua variabel
atau lebih. Dua variabel dikatakan berkorelasi jika perubahan pada salah satu
variabel mengakibatkan perubahan yang sesuai pada variabel lainnya. Oleh karena
itu, korelasi adalah alat statistik yang mempelajari hubungan antara 2
variabel.
Dua variabel, misalnya, usia dan tekanan darah ditemukan bervariasi dalam
beberapa mode linier. Cara yang tepat untuk menyatakan derajat hubungan linier
antara keduanya adalah dengan perhitungan koefisien korelasi. Oleh karena itu,
ketika seseorang mempelajari hubungan antara dua variabel disebut analisis
korelasi sederhana, dan jika lebih dari dua variabel maka disebut analisis
multivariat (Rajathi, 2006).
Korelasi dapat bervariasi dari –1.0 (hubungan atau
asosiasi negatif yang sempurna), 0,0 (tidak ada korelasi), hingga +1,0
(korelasi positif sempurna). Perhatikan bahwa +1 dan -1 adalah sama tinggi atau
kuatnya, tetapi keduanya menimbulkan interpretasi yang berbeda. Korelasi
positif yang tinggi antara kecemasan dan nilai akan berarti bahwa siswa dengan
kecemasan yang lebih tinggi cenderung memiliki nilai yang lebih tinggi nilai,
mereka dengan kecemasan yang lebih rendah memiliki nilai yang lebih rendah. Korelasi
negatif yang tinggi berarti bahwa siswa dengan kecemasan tinggi cenderung
memiliki nilai rendah; begitu pula sebaliknya. Sementara korelasi nol tidak ada
asosiasi yang konsisten. Seorang siswa dengan kecemasan tinggi mungkin memiliki
nilai rendah, sedang, atau tinggi (Rajathi, 2006).
2.1.1 Tipe-tipe
Korelasi
a.
Korelasi positif dan negatif
Jika nilai
kedua variabel bergerak dalam arah yang sama arah, yaitu, jika peningkatan
nilai satu variabel menghasilkan kenaikan nilai variabel lain atau jika
penurunan nilai satu variabel menghasilkan penurunan yang sesuai dalam
nilai-nilai variabel lain, maka disebut korelasi positif. Di sisi lain, jika
variabel menyimpang ke arah yang berlawanan, yaitu jika kenaikan dalam
nilai-nilai satu variabel menghasilkan penurunan yang sesuai dalam nilai-nilai
variabel lainnya, maka disebut korelasi negatif.
b.
Korelasi linier dan non-linier
Jika perubahan unit dalam satu variabel sesuai dengan perubahan konstan
dalam variabel lain di seluruh rentang data, maka korelasinya antara dua
variabel dikatakan linier. Sebagai contoh, data berikut menunjukkan korelasi
linier antara dua variabel X dan Y.
|
X |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
|
Y |
5 |
7 |
9 |
11 |
13 |
Jadi, untuk perubahan satuan nilai X, ada perubahan konstan yaitu, 2 di nilai Y. Ketika data ini diplot pada lembar grafik, ini memberikan garis lurus. Tetapi kondisi ideal seperti itu tidak pernah ada di alam. Dalam kebanyakan situasi di sosial dan ilmu biologi hubungan antara 2 variabel tidak linier satu dan mungkin berfluktuasi. Secara matematis, korelasi dikatakan non-linier jika kemiringan kurva yang diplot tidak konstan
2.1.2 Metode Pengkajian Korelasi
Ada berbagai metode untuk mempelajari tingkat
korelasi tergantung pada jenisnya variabel dan jumlah variabel yang terlibat.
Jika hanya dua variabel yang dipelajari dalam penyelidikan, itu adalah analisis
bivariat. Derajat hubungan antara dua pengukuran variabel dapat dilakukan baik
secara grafis maupun matematis.
a.
Metode grafik (Diagram Scatter atau diagram pencar)
Cara paling sederhana untuk memastikan korelasi antara
dua variabel adalah dengan diagram pencar. Dalam metode ini, jika n pasang
nilai (X1Y1, X2Y2, …..XnYn,) dari dua variabel X dan Y diberikan, maka satu variabel
diwakili di sepanjang absis (sumbu X) dan yang lainnya di sepanjang ordinat (Sumbu
Y) pada lembar grafik. Dari diagram pencar kita dapat membentuk ide yang cukup
bagus tetapi kasar tentang hubungan antara dua variabel.
Gambar 2.1. Korelasi
positif antara kedua variabel
Gambar 2.2. Korelasi negatif antara kedua variabel
Gambar 2.3 Tiidak ada korelasi antara kedua variabel
b.
Metode matematis (Pearson’s Correlation Coefficient)
Hubungan antara dua variabel pengukuran dipelajari
dengan metode yang diperkenalkan oleh Karl Pearson dan disebut koefisien
korelasi Pearson. Rumus berikut digunakan untuk mencari hubungan antara dua
variabel.
r—koefisien
korelasi
Nilai koefisien korelasi Pearson berada di antara +1 dan -1. Jika
variabel berkorelasi negatif, maka nilai r terletak antara 0 dan -1. Adapun
jika berkorelasi positif nilainya antara 0 dan +1. Jika tidak ada korelasi
nilainya adalah 0.
2.2 Pengujian Statistik Korelasi
2.2.1 Analisis Bivariat
Perhatikan
contoh berikut ini!
Tentukan
koefisien korelasi untuk variabel umur (tahun) dan tekanan darah (mmHg) berikut!
|
Umur (tahun) |
Tekanan Darah
(mmHg) |
|
56 |
160 |
|
42 |
130 |
|
60 |
125 |
|
50 |
135 |
|
54 |
145 |
|
49 |
115 |
|
39 |
140 |
|
62 |
120 |
|
65 |
140 |
|
70 |
160 |
|
40 |
126 |
|
43 |
145 |
|
35 |
118 |
|
38 |
120 |
|
39 |
123 |
|
37 |
138 |
|
70 |
160 |
|
75 |
163 |
|
65 |
145 |
|
64 |
146 |
a.
Membuat
hipotesis
·
Null
hypothesis (H0) : tidak terdapat hubungan antar umur dan tekanan
darah
·
Alternate
hypothesis (HA) : terdapat hubungan antar umur dan tekanan darah
b. Buka Data Editor dan klik Variable View lalu masukkan nama variabel dan rincian variabel
c.
Klik
Data View dan masukkan data
d. Pilih Analyse dari menu utama dan pilih Correlate dan kemudian pilih Bivariate
e.
Kotak
dialog Bivariate Correlations terbuka
f. Masukkan
varibel ke dalam Variables box, pilih Pearson under Correlation Coefficients
and pilij Two-tailed under Test of Significance dan Flag Significant Correlations
g. Klik
Options to open Bivariate Correlations: Options, pilih Mean dan Standard
Deviation under Statistics
h. Klik
Continue dan klik OK. Dua output, satu output untuk descriptive statistics dan
output lainnya untuk Correlations.
Penafsiran
Output 1
memberikan rata-rata usia dan tekanan darah dengan standar deviasi.
Output 2
memberikan hasil koefisien korelasi Pearson.
Nilai terhadap korelasi Pearson, yaitu 0,631 adalah nilai r. Karena, nilai r adalah positif dan signifikansi (2-tailed) nilai 0,002 (nilai p) di bawah 0,01, maka H0 ditolaj dan terima hipotesis alternatif. Dengan demikian, disimpulkan bahwa usia pasien dan tekanan darah berhubungan positif.
2.2.2 Rank Correlation
Terkadang,
kita menemukan data statistik di mana variabel yang diteliti tidak mampu
melakukan pengukuran kuantitatif yang akurat dan mungkin juga tidak termasuk
dalam skala interval, tetapi dapat diatur dalam urutan serial. Variabel
tersebut adalah karakteristik kualitatif atau atribut seperti kecerdasan,
kecantikan, moralitas, metode pengajaran, kejujuran, dan lain sebagainya. Untuk
data seperti itu, Karl Koefisien korelasi Pearson tidak dapat digunakan. Ada
berbagai metode untuk memeringkat data dan menghitung koefisien korelasi, dua
diantaranya ialah koefisien korelasi Spearman dan koefisien korelasi Kendall.
a. 2.2.2.1 Koefisien
korelasi Spearman
Untuk menghitung koefisien korelasi Spearman, peringkat ditetapkan ke satu se variabel X dan Y secara individual. Dalam pemeringkatan, pertama variabel X diurutkan dari rendah ke tinggi (bisa dari tinggi ke rendah juga); maka variabel Y dirangking dengan cara yang sama. Adapun persamaan yang digunakan pada Koefisien korelasi Spearman ialah:
Perhatikan
contoh berikut!
Hitung
koefisien korelasi peringkat Spearman untuk data prestasi akademik
prestasi dan pendapatan keluarga di
bawah ini!
|
Skor |
75 |
73 |
96 |
61 |
71 |
56 |
50 |
85 |
90 |
56 |
|
Pendapatan |
8500 |
7000 |
6000 |
12000 |
12000 |
5000 |
18000 |
9000 |
7000 |
8200 |
Dalam
output ini koefisien korelasi Spearman diberikan pada titik persimpangan antara
"nilai yang diperoleh" dan "pendapatan keluarga" yang –0,373,
dan nilai signifikansi untuk dua sisi adalah 0,288. Karena nilai
signifikansinya adalah lebih besar dari 0,05 (p > 0,05), koefisien korelasi
tidak signifikan dan disimpulkan bahwa prestasi akademik tidak terkait dengan pendapatan
keluarga dalam kumpulan data ini.
b. 2.2.2.2 Koefisien
korelasi Kendall
Koefisien
korelasi Kendall dilambangkan dengan (
Perhatikan contoh berikut!
Hitung
koefisien korelasi peringkat Kendall untuk data IQ 10 orang dan durasi menonton
TV!
|
IQ |
106 |
86 |
100 |
101 |
199 |
103 |
97 |
113 |
112 |
110 |
|
Durasi (jam) |
7 |
0 |
27 |
50 |
28 |
29 |
20 |
12 |
6 |
17 |
Dengan
cara yang sama seperti sebelumnya, namun dengan memilih uji Kendall, maka
diperoleh koefisien korelasi Kendall b yaitu = –0,11, dan signifikansi dua ekor
adalah 0,65. Karena, nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 (p>0,05),
koefisien korelasi tidak signifikan dan disimpulkan bahwa IQ tidak terkait
dengan durasi menonton TV.
***
Berdasarkan
pembahasan yang telah diuraikan, diperoleh simpulan:
1. Dua
variabel dikatakan berkorelasi jika perubahan pada salah satu variabel mengakibatkan
perubahan yang sesuai pada variabel lainnya. Oleh karena itu, korelasi adalah
alat statistik yang mempelajari hubungan antara 2 variabel.
2. Uji
korelasi meliputi uji Pearson,uji Spearman, dan uji Kendall
Diharapkan
agar kita dapat mempelajari uji-uji tersebut dan berlatih untuk menggunakannya
dengan aplikasi SPSSa agar kita terbiasa dan memudahkan kita untuk mengolah
data dikemudian hari.
DAFTAR PUSTAKA
Rajathi, A., & Chandran, P. (2016). SPSS for
You. New Delhi: MJP Publishers.
Komentar
Posting Komentar